LIKE Fanspage Facebook Propinsi Madura

Selasa, 17 Mei 2011

Radja Nainggolan, Ikon Sepakbola Indonesia di Liga Serie A Italia

Darah Madura - Diantara pilar-pilar Cagliari, terselip satu nama yang asing bagi telinga orang Eropa, Radja Nainggolan. Ya, dari namanya saja kita sudah tahu bahwa itu nama marga orang Sumatera Utara.

Namun siapa nyana, ia bukan pemain berkewarga negaraan Indonesia. Melainkan Belgia. Ia lahir di Antwerp 23 tahun silam dari rahim seorang Belgia, namun ayahnya orang Indonesia.

Kini ia merumput di Italia bersama Cagliari sejak musim panas lalu. Ia diboyong dari Piacenza setelah Roberto Donadoni melihatnya sebagai sosok yang potensial. Meskipun bermain untuk tim papan bawah, Radja sudah sangat senang, karena memang mimpinya sejak kecil untuk menjajal Italia dengan tim manapun, bertarung dengan bintang-bintang dunia yang bertaburan di Seria-A.

Kini kabarnya ia dilirik Duo Milan dan Napoli, serta raksasa Spanyol, Real Madrid. Namun nampaknya, pemuda keturunan Batak ini masih betah di Sant’Elia, karena disinilah ia mencicipi Serie-A.

Radja yang tinggal bersama ibunya sejak kecil di Antwerp. Sementara ayahnya memilih tinggal di Bali bersama kedua saudara kembarnya. Radja sedah mengenal Sepakbola sejak balita. Ia pindah bersama ibunya ke Germinal Beerschot di usia 10 tahun. Di Beerschot inilai Radja mengenyam pendidikan sepak bola dini

“Semasa kecil, saya sangan senang bermain sepakbola, bahkan ketika baru berumur lima tahun saya sudah ikut kesebelasan kota kelahiran saya. Saat umur 10 saya pindah ke Beerschot dan mulai mendalami sepakbola pada masa remajaku,” tuturnya seperti dalam kutipan Tribalfootball, Senin (16/5/2011).

“Akhirnya, ketika saya berumur 16 tahun, agen memberitahu saya bahwa sebuah klub Italia tertarik pada saya, langsung saya terima dan pindah ke Piacenza,” lanjutnya.

“Mimpi saya jadi kenyataan: bermain di Italia. Pada awalnya, memang tak mudah, masih berusia 16 tahun tanpa kenal siapa-siapa di negeri orang, namun determinasi dan kesungguhan saya membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang saya hadapi.
Itulah awal karir saya di Italia,” tandas pemain bepostur 1,75 meter tersebut.

Pujian pun mengalir bagi Radja, mantan pelatih Cagliari, Pierpaolo Bisoli bahkan mengaku menjadi fans berat Radja.

“Dia merupakan pemain hebat. Punya kekuatan dan teknik yang baik. Dia bisa saja menjadi pemain pemain penting bagi Napoli, atau bahkan AC Milan,” tutur Bisoli.

Siapa Radja Nainggolan?


Radja lahir 4 Mei 1988. Ayahnya asli Indonesia, dan ibu berkebangsaan Belgia. Ia memulai karir sejak musim 2005/2006. Pada musim pertamanya Radja hanya tampil sekali, begitu pula pada musim kedua.

Karirnya mulai menanjak pada musim 2007/08, dengan tampil sepuluh kali mengenakan kostum Piacenza. Kini, hingga 21 November pada musim 2008/09, Radja belum pernah absen sekalipun. Dari 15 kali tampil, ia berhasil melesatkan satu buah gol di kandang Treviso, tepatnya pada 25 Oktober silam.

Pelatih Stefano Pioli menjadikannya starter di posisi gelandang dalam beberapa pertandingan. Di posisi strategis ini, Radja kerap bermain dengan Marco Calderoni, Alessio Stamilla, Pietro Visconti, ketiganya adalah pemain dari akademi sepakbola Piacenza.

Radja Nainggolan tampaknya akan menjadi harapan publik sepakbola Indonesia yang bermimpi melihat anak negerinya bermain di kompetisi elit Eropa. Namun, apakah Radja Nainggolan juga punya harapan menjadi bagian tim nasional Indonesia? Siap-siap kecewa.

GOAL.com Indonesia dibantu oleh Daniele Perticari dan Sergio Stanco dari GOAL.com Italia sehingga wawancara ini berjalan lancar. Berikut ini kutipan wawancara GOAL.com dengan Radja Nainggolan melalui telefon.


GOAL.com: Bagaimana pengalaman Anda bermain untuk Piacenza?


RADJA NAINGGOLAN: Menarik sekali bermain di sini. Ini musim yang keempat buat saya, dan ketiga di skuad utama. Saya sangat senang dan saya yakin saya bisa bermain lebih baik di masa mendatang.

Bagaimana Anda bisa menembus skuad Piacenza? Coba ceritakan sedikit perjalanan Anda ke liga Italia.

Agen saya asal Swiss, Alessandro Beltrami – agen yang berperan mendatangkan Valon Behrami ke Lazio dan kemudian West Ham United – suatu hari datang ke Belgia untuk mencari pemain-pemain berbakat. Awalnya, saya tidak tahu siapa dia, tapi saat itu saya bermain untuk GBA (singkatan dari KFC Germinal Beerschot Antwerpen, klub Liga Juplier Belgia). Dia sangat terkesan dengan penampilan saya dan bertanya apakah dia bisa diresmikan sebagai agen saya. Kemudian, saya tiba di Italia tapi semuanya jadi sulit. Sepakbola Italia jauh lebih tangguh dibanding sepakbola Belgia. Jadi saya harus bekerja lebih keras ketika latihan, dan memaksa diri beradaptasi dalam dunia baru ini.

Siapa tim atau pemain lawan paling tangguh yang pernah dihadapi Anda?

Tidak hanya satu. Banyak sekali lawan yang kuat di Italia. Sulit bagi saya untuk menyebut nama-namanya.

Anda campuran Indonesia-Belgia. Tim nasional mana pilihan Anda?


Belgia. Saya belum pernah ke Indonesia. Ayah saya orang Indonesia dan dalam waktu dekat ini saya akan ke sana untuk bertemu dengan ayah – untuk pertama kalinya di negerinya sendiri. Ia lebih sering ke sini dan ke lapangan langsung untuk melihat saya bertanding, tapi saya sendiri belum pernah ke Indonesia bersama ayah.

Jika Anda gagal menembus skuad Belgia, apakah Anda bersedia membela tim nasional Indonesia, jika tawaran itu diajukan oleh PSSI?

Saya tidak tahu. Hal ini sangat sulit karena saya masih muda dan sudah mengenakan kostum tim U-21 Belgia. Saya masih bisa memilih hingga tim senior memanggil. Saya pikir Indonesia berpeluang membangun tim yang lebih solid jika memanggil pemain-pemain Eredivisie yang tidak memperkuat timnas Belanda (seperti Irfan Bachdim). Saya pernah ditanya sekali, dalam sebuah wawancara, apakah berminat membela timnas Indonesia. Itu saja.

Apa yang Anda ketahui tentang Indonesia, sebagai negara maupun sepakbolanya?

Pengetahuan saya terhadap Indonesia sangat sedikit, karena saya belum pernah ke sana, dan saya hanya tahu sedikit mengenai makanan Indonesia.

Apakah Anda pernah berbicara dalam bahasa Indonesia?

Tentunya tidak!

Bagaimana gaya permainan Anda?

Konsentrasi penuh dengan menikmati gaya permainan yang saya terapkan. Di Belgia, saya merasa senang bersama rekan-rekan di GBA karena kami teman-teman baik. Di Italia, tekanan lebih tinggi dan lingkungannya beda, sehingga gaya permainan juga berbeda. Saya tipe orang yang ingin bercanda dan merasa senang sebelum kick-off. Dengan kondisi seperti itu, saya akan fokus untuk meraih kemenangan dan mengambil keputusan yang tepat di lapangan.

Siapa saja pemain favorit Anda?

Ronaldinho. Ia pemain yang kuat dan murah senyum. Ia selalu dalam keadaan senang, dan bagi saya itulah cara terbaik untuk menghadapi permainan hebat seperti sepakbola. Impian saya? Saya ingin bermain di Serie A (Dan impian ini sudah tercapai)
(data diadaptasi dari: tribalfootball.com dan goal.com)

Related Posts by Categories



1 komentar: